Kategori
Imam Ja'far al-Shadiq as

Ikhlas yang sesungguhnya

Abu Ja’far Khats’ami salah satu sahabat Imam Ja’far Shadiq as. Suatu saat ia becerita:

Pada suatu hari, Imam Shadiq as memberiku sekantung uang berisi 50 Dinar dan berkata, “Berikan ini kepada si fulan dari kalangan Bani Hasyim, dan jangan beritahu dia siapa yang memberinya.”

Aku pun mengerjakan apa yang diperintahkannya. Saat penerima uang itu bertanya siapa yang memberinya, aku pun tak memberitahunya.

Lalu penerima uang itu tiba-tiba berkata, “Semoga Tuhan memberi balasan terbaik untuk orang yang memberikan uang ini, yang beberapa waktu sekali mengantarkan uang untuk kebutuhan kami. Tidak seperti Ja’far Shadiq yang dengan sedemikian banyak kekayaannya tapi tidak pernah ingat kepada kami, orang-orang miskin!”

hawzah.net | Amaali Syaikh Thusi jil 2 hal 290

Kategori
Imam Ali al-Murtadha as

Imam Ali as di atas sebuah tikar kecil

Suwaid bin Ghaflah bercerita:

Pada suatu hari, saat masyarakat membai’at Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, aku pernah pergi mengunjungi beliau di rumahnya. Saat itu aku melihatnya duduk di sebuah tikar kecil. Di dalam rumah itu tidak ada barang berharga selain tikar kecil itu. Lalu aku bertanya kepadanya, “Wahai Ali, Baitul Mal ada di tanganmu. Di rumah ini hanya ada tikar kecil ini?”

Imam Ali as menjawab, “Suwaid, orang yang berakal saat berada di persinggahan tidak mungkin menyediakan perabot-perabot rumah di situ. Kita semua punya rumah yang nyaman (di alam akhirat) yang seharusnya di sana kita kumpulkan benda-benda berharga untuk rumah kita. Tak lama lagi kita akan tiba di sana.”

ana.press

Kategori
Imam Ali al-Murtadha as

Imam Ali as dan penjual daging

Pada suatu hari Imam Ali as melewati seorang penjual daging. Penjual daging itu menyediakan daging-daging segar yang berkualitas.

Saat penjual daging melihat Imam Ali as lewat, ia berkata, “Wahai Amirul Mu’minin! Aku punya daging yang bagus untukmu. Belilah sebagian untuk kau bawa pulang.”

Imam Ali as berkata, “Aku tidak membawa uang.”

Penjual daging berkata, “Tidak masalah, aku akan bersabar, engkau bisa membayarnya kapanpun kau mau.”

Imam Ali as menjawab, “Aku yang akan bersabar untuk tidak membeli daging karena aku tidak ingin membeli dengan cara berhutang.”

Akhirnya beliau pergi meninggalkan penjual daging.

ana.press

Kategori
Imam Ali Zainal Abidin al-Sajjad as

Sekilas Sejarah Imam Jawad as dan Tragedi Syahidnya Beliau

Imam ke-9 umat Islam Syi’ah adalah Imam Jawad as. Beliau lahir pada tahun 195 Hijiah di kota Madinah. Nama beliau adalah Muhammad, yang dikenal dengan Al-Jawad. Julukan-julukan lain beliau di antaranya adalah Al-Rodhi, At-Taqi dan Al-Muttaqi.

Imam Muhammad Jawad berusia 8 tahun saat ayahnya wafat di tahun 203 H. Sepeninggal sang ayah, yaitu Imam Ridha as, beliau yang mejadi Imam umat Islam Syi’ah.

Ma’mun si khalifah Bani Abbas, sebagaimana khalifah-khalifah sebelumnya, sangat mengkhawatirkan pengaruh spiritual para Imam Ma’shum as terhadap para pengikutnya. Oleh karena itu mereka sering berupaya mengawasi Aimah as dan bahkan bersiasat untuk menakhlukkan mereka.

Salah satu upaya yang dilakukan Ma’mun adalah menikahkan putrinya dengan Imam Jawad as.

Pernikahan beliau

Ma’mun menikahkan putrinya, Ummul Fadhl, dengan Imam Jawad as dengan niat agar putrinya bisa menjadi pengintai terhadap beliau yang barang kali juga bisa menakhlukkan beliau dari dalam rumah.

Alasan lain Ma’mun menikahkan putrinya dengan Imam Jawad as adalah untuk mengajak beliau bersepaham dengannya. Karena ia kira dengan cara itu Imam as akan terlena dengan harta dan kedudukan yang diberikan Ma’mun, lalu jika ia berhasil pasti martabat sang Imam as akan runtuh dan para pengikutnya akan bercerai berai.

Dengan cara itu pula Ma’mun berupaya mencegah kaum ‘Alawi agar tidak memberontak melawan pemerintahannya. Karena dengan alasan pernikahan itu Ma’mun merasa sebagai orang yang dekat dan dicintai oleh sang Imam as sehingga para pengikut Ahlul Bait as pun segan dengannya.

Para Imam suci as tahu dengan apa yang bakal terjadi di kemudian hari. Oleh karena itu yang mereka lakukan selalu berdasarkan perhitungan.

Dengan berbagai pertimbangan, Imam Jawad as bersedia menikahi putri Ma’mun. Salah satu alasannya adalah agar para pengikut beliau aman dari ancaman Ma’mun.

Namun bagaimanapun juga, Imam Jawad as selalu berhasil mengelak dari tiap tipu muslihat Ma’mun yang sudah direncanakan sebelumnya dan meski beliau menikahi putri Ma’mun, si Ma’mun tak kunjung juga berhasil menipu Imam Jawad as.

Masa kepempimpinan beliau

Imam Jawad as memimpin umat Islam Syiah selama 17 tahun bersamaa dengan masa-masa kekhalifahan Ma’mun.

Ketika Imam Ridha as dipanggil untuk menghadap Ma’mun dari kota Madinah menuju kota Thus (Masyhad yang saat ini di Iran), Imam Jawad as masih berusia anak-anak. Ia bersama anggota keluarga lainnya tetap tinggal di Madinah.

Pada tahun 202 H., Imam Jawad as pergi dari Madinah menuju kota Marv untuk menemui ayahnya, lalu kembali ke Madinah setelah itu.

Salah satu sifat yang paling dikenal dimiliki oleh Imam Jawad as adalah kedermawanannya.

Ibadah haji dan traged syahidnya beliau

Pada suatu hari Imam Jawad as pergi menunaikan ibadah Haji. Setelah itu beliau kembali ke Madinah. Selama Ma’mun kenjadi khalifah, beliau tinggal di kota itu.

Sepeninggal ma’mun, khalifah setelahnya yaitu Mu’tashim, pada tahun 220 H. ia memanggil Imam Jawad as untuk mendatangi kota Baghdad bersama istrinya, Ummul Fadhl.

Menurut berbagai riwayat, di tahun itulah Mu’tashim memerintahkan anak buahnya untuk meracuni Imam Jawad as.

Beliau wafat pada akhir bulan Dzul-Qa’dah tahun 220 H. dan makam beliau saat ini berada di kota Kadhimain, Iraq.

Sumber: Tabnak.ir

Kategori
Imam Mahdi al-Muntadhar aj

Imam Mahdi aj dan Dajjal di depan Ka’bah

Sayid Ibnu Thawus dalam kitab Iqbal meriwayatkan dari Aban bin Muhammad, bahwa pada suatu tahun Imam Shadiq as pergi menunaikan ibadah haji. Saat itu beliau berada di bawah Ka’bah berdoa. Abdullah bin Hasan di sisi kanan, Hasan bin Hasan di sisi kiri, dan Ja’far bin Hasan[1] berdiri di belakang beliau.

Pada waktu itu Ibad Abu Katsir Bashri memanggil Imam, “Wahai Abu Abdillah.”

Imam diam tidak menjawabnya.

Ibad tiga kali memanggil beliau seperti itu namun Imam tidak menjawab. Akhirnya Ibad memanggil beliau dengan menyebut nama, dan berkata, “Hai Ja’far!”

Imam pun menjawab, “Wahai Abu Katsir, apa yang kau inginkan? Katakan.”

Ibad berkata, “Aku memiliki sebuah kitab yang ditulis di dalamnya bahwa akan ada seorang yang bakal menghacurkan rumah Ka’bah.”

Beliau menjawab, “Abu Katsir, kitabmu berbohong. Demi Tuhan aku tahu orang yang kau maksud. Ia adalah Dajjal, kakinya berwarna kuning, betisnya terluka, lehernya kecil, kepalanya besar, berdiri di samping Rukun Yamani. Ia melarang semua orang bertawaf dan membubarkan mereka. Saat itu Allah swt akan mengutus seseorang dari keturunanku dan ia akan membinasakannya bagaikan kaum ‘Ad, Tsamud dan Fir’aun.”

Sumber: Biharul Anwar, jil. 51, hal. 376.

Ahlolbait.com


[1] Ketiga orang itu adalah putra Hasan Al-Mutsanna putra Imam Hasan Al-Mujtaba as.

Kategori
Imam Mahdi al-Muntadhar aj

Cerita bertemunya Imam Zaman aj dengan pandai besi

Ada seorang ahli ilmu ghaib, berhasil mendapatkan ilham untuk mengetahui di mana ia bisa menemukan Imam Zaman aj, yang mana saat itu beliau berada di sebuah pasar. Ia pun bergegas menuju pasar itu.

Sesampai di tujuan, ia melihat seseorang yang menurutnya adalah Imam Zaman aj, ia berada bersama seorang pandai besi. Ia melihat si pandai besi itu sepertinya tidak tahu kalau ada Imam Zaman aj di dekatnya, seperti itu yang ia kira. Ternyata perkiraannya salah, karena tak lama kemudian bapak tua si pandai besi itu berkata kepada Imam Zaman aj, “Wahai putra Rasulullah saw, di sini panas sekali. Engkau ingin kubawakan air minum?”

Tak lama kemudian ada seorang wanita tua mendatangi pandai besi. Ia berkata kepadanya, “Anakku sakit. Aku perlu uang tujuh Dirham untuk membayar biaya pengobatannya. Aku hanya punya gembok ini yang tidak ada kuncinya. Di pasar ini tidak ada yang mau membelinya kecuali hanya seharga enam Dirham saja. Mohon belilah gembok ini dengan harga tujuh Dirham.”

Pak tua si pandai besi memeriksa gembok tersebut dan berkata, “Barangmu ini meski tidak ada kuncinya laku 10 Dirham. Jika kuncinya dibuat, bisa laku 12 Dirham. Mana yang kamu mau? Semuanya bisa saya lakukan.”

Akhirnya si nenek memilih untuk menjualnya kepada pandai besi. Pandai besi membayar 10 Dirham kepada nenek itu. Lalu Imam Zaman aj berkata kepadanya, “Tidak perlu kau bersusah payah mencariku dengan ilmu ghaibmu. Jika seorang Muslim berperilaku seperti pak tua ini, aku yang akan datang.”

ana.press

Kategori
Imam Ali al-Ridha as

Imam Ali Ridha as dan orang yang meragukannya

Husain bin Umar bin Yazid dulunya termasuk orang yang hanya mempercayai Imamah hanya berlanjut sampai Imam Musa bin Ja’far Al-Kadhim as saja dan tidak mempercayai bahwa Imam Ali Ridha as sebagai Imam.

Suatu hari ia bercerita:

Pada suatu hari bersama ayahku kami mendatangi Imam Kadhim as. Ayahku menanyakan tujuh pertanyaan. Imam pun menjawab enam pertanyaan tersebut dan tidak menjawab yang ketujuh.

Selang beberapa masa, di hatiku aku berkata, aku akan menanyakan tujuh pertanyaan yang sama kepada Ali bin Musa Al-Ridha, jika ia bisa menjawabnya sama seperti ayahnya, aku mempercayainya sebagai Imam setelah ayahnya.

Akhirnya aku menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu, dan beliau pun menjawabnya tepat seperti ayahnya. Begitu pula ia tidak menjawab pertanyaan ketujuh.

Lalu saat aku hendak berpamitan, beliau berkata kepadaku, “Setiap pengikut kami di dunia ini akan mengalami cobaan dan kesulitan; jika mereka sabar, Tuhan akan memberikan pahala ribuan syahid kepada mereka.”

Saat itu aku masih tidak faham dalam rangka apa beliau mengatakan hal itu.

Tak lama kemudian kakiku sakit dan penyakit itu sangat menyusahkanku. Sampai pada musim haji, waktu aku pergi haji aku pun bertemu Imam Ridha as. Akhirnya aku mengadukan penyakitku kepadanya dan memintanya berdoa untukku agar penyakitku segera sembuh.

Imam pun berdoa untuk kesembuhan kakiku. Ternyata tak lama kemudian kakiku benar-benar sembuh.[1]

Sumber: ahlolbait.com


[1] Bihar Al-Anwar, jil. 49, hal. 67, h. 88; Itsbatul Hudat, jil. 3, hal. 248, h. 7.

Kategori
Imam Musa al-Kadhim as

Tubuh bersimbah keringat Imam Musa Al-Kadhim as

Pada suatu hari Imam Musa Al-Kadhim as sedang sibuk menggarap tanahnya. Begitu lelah beliau sampai tubuhnya bersimbah keringat.

Ali bin Abi Hamzah Bathaini saat melihat beliau dalam keadaan tersebut bertanya, “Wahai Imam, mengapa engkau tidak memerintahkan orang lain untuk mengerjakan pekerjaan seperti ini?”

Imam balik bertanya, “Mengapa harus kuperintahkan orang lain? Orang-orang yang lebih baik dariku saja melakukan hal yang sama.”

“Misalnya siapa?”, tanya Ali Bathaini.

Imam menjawab, “Rasulullah saw, Imam Ali as dan semua ayah dan kakekku. Sesungguhnya bekerja di muka bumi ini adalah sunah para nabi, para washi dan hamba-hamba Allah swt yang saleh.”

[Biharul Anwar, jil. 11, hal. 266; Wasailus Syiah, jil. 2, hal. 531]

Kategori
Imam Hasan al-Mujtaba as

Tertipu angan-angan hingga mengkhianati Imam Hasan as

Berkali-kali Muawiyah melakukan berbagai cara untuk mencelakai Imam Hasan as namun ia tidak berhasil.

Akhirnya pada suatu hari Muawiyah memanfaatkan istri Imam Hasan as yang bernama Ja’dah binti Asy’ats untuk mencelakai beliau.

Muawiyah berkata kepada Ja’dah, “Jika engkau meracuni Hasan putra Ali, aku akan memberimu seratus ribu dirham dan aku akan menikahkan anakku Yazid denganmu.”

Saat itu Imam Hasan as sedang berpuasa di hari yang cukup panas. Ja’dah membuatkan minuman terbuat dari susu yang telah dicampuri racun untuk beliau berbuka puasa. Imam pun meminumnya.

Merasa tubuhnya diracuni, Imam Hasan as berkata kepada Ja’dah, “Hai musuh Allah. Semoga Allah membinasakanmu. Demi Tuhan setelah aku mati engkau tidak akan mendapatkan apapun dari dunia ini.”

Diriwayatkan bahwa dua hari setelah meneguk racun itu, Imam Hasan as wafat di usia 48 tahun.

Ja’dah pun menagih janji Muawiyah. Namun Muawiyah dengan picik berkata, “Ketika engkau tidak setia dengan Hasan, bagaimana engkau akan setia dengan anakku Yazid?” Muawiyah pun tidak memenuhi janjinya.

Akhirnya Ja’dah tidak mendapatkan apapun dan mati dalam keadaan hina.

[hauzah.net]

Kategori
Imam Hasan al-Mujtaba as

Membebaskan budak karena skuntum bunga

Malik bin Anas berkata:

Budak perempuan Imam Hasan as menghadiahkan sekuntum bunga kepada beliau. Beliau menerima bunga tersebut lalu berkata kepadanya, “Engkau kubebaskan di jalan Tuhan.” 

Budak itu bertanya, “Wahai putra Rasulullah saw, apakah engkau membebaskanku hanya karena sekuntum bunga?” Imam menjawab, “Engkau telah memberikan segala yang kau punya kepadaku.” Karena budak itu tak memiliki apapun selain bunga tersebut.

Allah swt dalam surah An-Nisa ayat 86 bersabda:

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.”

Karena perintah ayat itu, ketika Imam diberi sebuah hadiah maka ia membalasnya dengan hadiah yang lebih besar; dan inilah hadiah dari beliau.

[hauzah.net]